Ujian Berbasis Laptop di SMA Plus PGRI Cibinong: Adaptasi Digital yang Menguji Kesabaran dan Ketekunan Sisw
Cibinong, PezatNews — Pelaksanaan Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS) di SMA Plus PGRI Cibinong berlangsung sejak Senin, 15 September 2025 hingga 22 September 2025. Memasuki era serba digital, ribuan siswa di sekolah tersebut diwajibkan menggunakan laptop sebagai media ujian. Pemanfaatan teknologi ini membuka peluang baru dalam pembelajaran, namun sekaligus memunculkan tantangan bagi para peserta didik.
Tantangan Siswa di Era Digital
Muhammad Dhafin Alvian, siswa kelas XI Reguler 5 yang
mengikuti program Studentday Jurnalistik, mengaku beberapa mata pelajaran
terasa cukup berat, terutama Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Menurutnya,
kedua mata pelajaran itu membutuhkan kemampuan literasi dan pemahaman yang
lebih mendalam.
“Kendalanya itu membagi waktu belajar. Saya harus
mempelajari materi dari bab 1 sampai bab 3 dalam satu waktu. Di era digital
seperti ini, rasa malas juga lebih sering muncul karena kehadiran gawai,” ujar
Dhavin.
Ia menekankan pentingnya cara belajar yang tepat.
“Dalam belajar kita jangan hanya mengingat, tapi memahami—seperti menjelaskan
materi itu ke diri sendiri,” katanya.
Dhavin juga menyebut PSTS sebagai alat ukur penting
bagi perkembangan belajar siswa selama tiga bulan. Meski begitu, ia tidak luput
dari kendala teknis saat ujian berlangsung.
“Laptop saya sempat tidak bisa masuk aplikasi ujian
sampai harus direstart. Waktu mata pelajaran PPKn juga delay sampai setengah
jam. Dari situ saya belajar mengumpulkan kesabaran 100%,” ujarnya.
Tips Belajar Menjelang PSTS
Dhafin membagikan beberapa tips bagi teman-temannya
untuk meraih nilai terbaik: belajar teratur, memperbanyak latihan soal, belajar
kelompok secara daring, dan tentu saja berdoa.
Siswa Studentday Jurnalistik kelas XI juga tengah
mengerjakan tugas PSTS berupa buletin 24 halaman yang mencakup rubrik fokus,
over story, dan feature tokoh. Menurut Dhavin, tugas tersebut cukup menantang,
namun menjadi lebih mudah jika dikerjakan dengan santai dan kompak bersama
kelompok.
“Semoga semua nilai di atas KKM dan saya mendapatkan
banyak pelajaran sepanjang tiga bulan ini,” harapnya.
Perspektif Kepala Sekolah: Belajar untuk Memperkuat
Ingatan
Kepala SMA Plus PGRI Cibinong, Dr. Agus Rohiman, M.Pd., menegaskan bahwa seluruh soal yang diujikan merupakan materi yang sudah disampaikan guru di kelas. Ia juga menjelaskan bahwa dalam teori ilmu saraf, pengulangan dalam belajar membantu memperkuat jalur ingatan. “Informasi yang masuk membuat dendrit bergetar. Jika diulang, mielin akan menebal yang berarti siswa tidak akan mudah lupa. PSTS, ulangan, dan latihan soal diarahkan agar pelajaran tersimpan kuat di otak,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa siswa harus memahami bahwa belajar adalah investasi penting bagi masa depan. “Kita harus terus belajar agar tidak mudah dibohongi, agar punya wawasan luas, dan masa depan yang baik,” tegasnya.
Laptop Sebagai Media Ujian Sejak Lama
Dr. Agus juga mengungkapkan bahwa penggunaan laptop
sebagai media ujian bukan hal baru di sekolah tersebut. “Laptop sudah digunakan
sejak tahun 2005. Keunggulannya, siswa tidak perlu membawa banyak perlengkapan.
Tetapi kekurangannya, tulisan tangan siswa jadi kurang terlatih, dan kendala
jaringan bisa terjadi,” katanya.
Meskipun demikian, ia menilai siswa cukup serius mengikuti PSTS dan menunjukkan kesungguhan dalam belajar. “PSTS memaksa kita mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan dan membangun karakter jujur dalam mengerjakan ujian,” ujarnya.
Ia menutup dengan harapan agar seluruh siswa mendapatkan nilai terbaik. “Semoga hasilnya sesuai keinginan mereka. Aamiin.” Dengan berbagai tantangan teknis maupun akademis, pelaksanaan PSTS berbasis digital ini menjadi momentum pembuktian kemampuan adaptasi siswa menghadapi perubahan zaman—sebuah ujian bukan hanya bagi kecerdasan, tetapi juga ketekunan dan karakter. (Carissa Puji Arpriyanti)
Komentar
Posting Komentar