Panggung Mini Jadi Ruang Belajar Siswa dalam Ujian Praktik Student Day Teater
CIBINONG, PEZATNEWS— Panggung teater tidak hanya menjadi tempat siswa memainkan tokoh dalam sebuah cerita. Di balik dialog, kostum, tata rias, dan gerak yang terlihat ketika pertunjukan berlangsung, terdapat proses belajar yang menuntut siswa berlatih, bekerja sama, dan memahami karakter yang mereka perankan.
Hal itu terlihat dalam ujian praktik Student Day Teater. Melalui
pementasan teater di SMA Plus PGRI Cibinong, Sabtu (19/9). Para siswa
mempersiapkan pertunjukan melalui latihan dialog, pendalaman karakter,
penyesuaian kostum dan tata rias, hingga pengaturan suara dan tempo pementasan.
Guru Studentday Teater, Mukti Ali Nur, M.Pd mengatakan
persiapan teater tidak berhenti pada kemampuan siswa menghafalkan dialog.
Setiap unsur dalam pertunjukan perlu dipersiapkan agar cerita dapat disampaikan
sesuai dengan konsep yang telah dibuat.
“Kostum dan tata rias perlu disesuaikan dengan karakter yang
diperankan. Selain itu, suara dan durasi juga harus dipersiapkan karena tempo
dalam sebuah pementasan perlu diperhatikan dari awal hingga akhir,” ujar Mukti,
saat ditemui crew PezatNews.
Dalam pengembangan cerita, siswa diberikan kebebasan untuk
menentukan dan mengembangkan tema. Guru studentday memberikan arahan, tetapi
siswa memiliki ruang untuk menuangkan gagasan sesuai dengan konsep yang mereka
bangun.
“Proses tersebut sama pentingnya dengan hasil pertunjukan.
Siswa belajar mengembangkan kreativitas dan inovasi sekaligus mengasah
kemampuan berpikir kritis melalui proses membuat dan mementaskan cerita,” jelasnya.
Pesan-pesan dalam cerita menjadi bagian lain dari proses
pembelajaran. Bagi Mukti, karakter yang dimainkan siswa dapat menjadi sarana
untuk memahami berbagai sifat manusia.
“Siswa dapat mengambil nilai positif dari tokoh dengan
karakter baik. Sebaliknya, tokoh dengan perilaku kurang baik dapat menjadi
bahan pembelajaran mengenai akibat dari perilaku,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia menuturkan, proses latihan juga melatih
siswa untuk disiplin dan bertanggung jawab terhadap peran yang diberikan.
Ketika tampil di depan penonton, mereka belajar mengelola diri dan membangun
keberanian. Sementara itu, kerja sama antarpemain mengajarkan siswa untuk memahami
peran orang lain dan bekerja menuju tujuan yang sama.
“Jadi, ujian praktik teater tidak berhenti pada hasil
pertunjukan. Proses panjang sebelum siswa berada di atas panggung menjadi
bagian dari pembelajaran itu sendiri,” jelasnya.
Ia meyakini, dialog yang diulang, karakter yang didalami,
cerita yang dikembangkan, serta kerja sama antarpemain mempertemukan
kreativitas dengan pengalaman. Di panggung itulah siswa belajar bahwa sebuah
pertunjukan tidak dibangun oleh satu peran, melainkan oleh banyak orang yang
menjalankan tanggung jawabnya masing-masing.
“Kegiatan pementasan diharapkan dapat membantu siswa
mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan mengelola diri, serta berbagai soft
skill yang akan berguna untuk kehidupan mereka di masa depan,” tuturnya.
Pengalaman itu pula yang dirasakan, M. Fawwaz Firdaus dari XI
Reguler 6. Ia mengatakan latihan dilakukan secara rutin setiap hari selama
kurang lebih satu bulan, digunakan untuk memperbaiki teks dan memperdalam
karakter yang dimainkan.
Fawwaz mendapat karakter seorang petualang. Ia tidak hanya
menghafalkan dialog, tetapi juga mencoba memahami bagaimana tokoh yang menyukai
petualangan bersikap dan bertindak.
“Cerita yang membawa tokoh-tokohnya ke dunia atau dimensi
berbeda menjadi tantangan tersendiri. Pemain harus menyampaikan dialog
sekaligus membangun suasana agar penonton dapat mengikuti dunia yang terdapat
dalam cerita,” tuturnya.
Sementara itu, Cinta Novishya Meilia dari XI Unggulan 6 dan
Salwa Putri Anjani dari XI Internasional 4 mengatakan latihan dimulai sekitar
dua minggu sebelum pementasan. Karakter yang dimainkan para siswa disesuaikan
dengan potensi masing-masing.
“Latihan berulang membantu pemain memahami peran sekaligus
membangun kerja sama. Setiap siswa memiliki tugas berbeda, tetapi seluruh peran
harus saling mendukung agar cerita dapat berjalan dengan baik,” curhatnya.
Dari sisi penonton, keberagaman karakter menjadi salah satu
daya tarik. Putri Nurul Hidayah dari XI Unggulan 8 mengatakan ia tertarik
melihat perbedaan karakter, tata rias, dan kostum yang digunakan para pemain.
Menurut Putri, setiap tokoh memiliki ciri khas. Ia juga
melihat pementasan sebagai kesempatan untuk mengenal karakter orang lain
sekaligus mengambil pesan dari cerita yang ditampilkan.
Salah satu cerita yang menarik perhatian adalah Timun Mas.
Adelio Farand Rabbany dari XI Internasional 2 mengatakan, sebelumnya telah
mengenal cerita tersebut sehingga penasaran melihat bagaimana kisah itu
dikembangkan dalam bentuk pementasan.
Menurut Adelio, cerita menjadi lebih hidup melalui perpaduan
adegan serius dan komedi. Unsur Islami serta penggunaan bahasa sehari-hari juga
membuat penyajian cerita terasa berbeda. Melalui cerita,
karakter, dan konflik yang ditampilkan, penonton maupun pemain dapat mengambil
pelajaran yang kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dari cerita yang ditampilkan, Adelio menangkap pesan
mengenai pentingnya percaya kepada Allah dan meyakini bahwa selalu ada jalan
dalam setiap keadaan. Ia juga melihat pentingnya menjaga janji,” pungkasnya.
(Tim Liputan: Lingga Arkana/Muhammad Hizam/IbrahimAlifi/AgamArlangga/AhmadAzzam/Studentday
Jurnalistik)


.jpeg)

Komentar
Posting Komentar